Minggu, 08 Juli 2012

Stop Free Sex Mengurangi AIDS



Permasalahan AIDS sepertinya masih juga belum bisa di tangani secara serius oleh pemerintah kita. Remaja yang semakin hari semakin buta dengan pengetahuan sex, HIV/AIDS, penyakit kelamin dan minimnya pendidikan agama yang diberikan tak pelak bahwa bibit bangsa ini akan terus menerus melahirkan penderita AIDS. Sungguh tragis mengingat AIDS adalah penyakit yang hingga saat ini belum ada obatnya.
Selama kondom masih dijual bebas berarti pemerintah secara tidak langsung menginzikan untuk melakukan sex bebas. Bukan hanya kondom tapi minuman berakohol, prostitusi semakin bebas, narkoba makin mudah di dapat beberapa pemicunya.
Peran yang paling diutamakan adalah peran orang tua bagaimana memberikan edukasi yang lebih mengenai free sex dan memberikan pemahaman bahwasannya ada suatu penyakit yang mengancam nyawa jika putra putri nya melakukan free sex.


Apakah AIDS itu? Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu Adan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

        
Pemicunya AIDS sekarang adalah banyaknya remaja yang melakukan free sex tanpa berpikir bagaimana kedepannya nanti. Maraknya video porno dikalangan remaja bahkan sudah mulai merebak kekalangan anak sekolah dasar benar benar jadi tamparan yang hebat untuk pemerintah kita.

Sudah bukan hal yang tabu prostitusi sudah menjadi trend dalam kehidupan remaja, tuntutan biaya kehidupan yang semakin mahal, pendidikan yang diabaikan dan masalah internal dalam rumah sering kali menjadi alasan mau tidak mau remaja putri merelakan “aset” nya yang begitu berharga kepada pengemis nafsu.

Teknologi yang semakin maju dan tak dapat dipungkiri free sex pun menjadi bisnis yang manis seringkali menjadi daya tarik remaja putri kita dalam mencari “pundi-pundi”. Berawal dari coba-coba dan hasilnya boleh dipetik secara harum tapi mereka tidak memikirkan bibit-bibit haram yang mulai tumbuh di rahim mereka.

Kondom menjadi salah satu saksi bisu remaja kita yang melakukan free sex, dan patut di ingat kondom bukanlah obat agar tidak terkena penyakit AIDS. Bila sudah terkontaminasi dengan sex maka peran kita sebagai orangtua harus lebih memperketat dalam pengawasan terlebih di lingkungan sekolah. Remaja putri yang masih awam dan kurang mengetahui tentang pendidikan sex pasti hanya ingin merasakan masa remaja yang indah, tapi mereka realitanya malah terjerumus ke dalam kemaksiatan yang akan merusak masa depannya secara permanen.


Penularan seksual
Penularan (transmisi) HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Seks oral tidak berarti tak berisiko karena HIV dapat masuk melalui seks oral reseptif maupun insertif.  Kekerasan seksual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina yang memudahkan transmisi HIV.

Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan kerentanan pasangan seksual yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan bervariasi pada berbagai tahap penyakit ini dan tidak konstan antar orang. Beban virus plasma yang tidak dapat dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil pada air mani atau sekresi alat kelamin. Setiap 10 kali penambahan jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81% peningkatan laju transmisi HIV. Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 karena perubahan hormon, ekologi serta fisiologi mikroba vaginal, dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit seksual. Orang yang terinfeksi dengan HIV masih dapat terinfeksi jenis virus lain yang lebih mematikan.

Bila dilihat dari segi sosial penderita AIDS akan dianggap sebelah mata dengan orang sekelilingnya, dan AIDS telah mem “brainwash” orang-orang dengan pengertian dapat lebih mudah meninggal dan tidak dapat mempunyai keturunan. Anggapan itu bisa benar karena AIDS adalah virus yang mematikan. Mengurangi penggunaan jarum suntik juga menjadi salah satu hal yang penting untuk mencegahnya.

Napsu dan tidak mengetahui akibat dari free sex adalah alasan klasik yang kita biasa dengar. Mengingat angka penyakit ini terus bertambah dan mengancam remaja Indonesia mungkin pemerintah harus mulai melek dengan situasi seperti ini. Diharapkan pemerintah sering mengadakan penyuluhan ke sekolah-sekolah dan kampus serta daerah-daerah yang dianggap minim pengetahuan AIDS. Dengan membawa seorang psikolog diharapkan agar informasi yang disampaikan lewat presentasi dan seminar-seminar itudapat terserap langsung ke otak pelajar yang memang umumnya mereka masih darah muda yang hanya berpikir sekali.

Jangan mengajak takut terhadap Tuhan kalau memang free sex itu benar-benar membuat dosa. Jika ada anak kita yang mengidap AIDS maka sebagai orang tua yang harus di lakukan adalah membantu mereka tetap yakin untuk dapat sembuh. Karena hidup dan mati itu adalah hak Tuhan. Menyarankan untuk pengidap AIDS dengan bertobat dan tetap yakin akan kekuasaan Tuhan.

Selain itu yang patut dilakukan pemerintah adalah tentang kejelasan sanksi hukum yang tegas dan pastinya memanfaatkan lembaga yang terkait untuk sering membuka seminar. Dan yang paling penting  bagaimana peran orang tua di rumah dalam mendidik anak-anak secara dini.
*salam cekeran ayam kate*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar